Kebudayaan Provinsi Bangka Belitung

Kebudayaan Provinsi Bangka Belitung

Budaya ~ Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ialah sebuah provinsi di Indonesia yang terdiri dari dua pulau utama yaitu Pulau Bangkadan Pulau Belitung serta pulau-pulau kecil mirip P. Lepar, P. Pongok, P. Mendanau dan P. Selat Nasik, total pulau yang telah berjulukan berjumlah 470 buah dan yang berpenghuni hanya 50 pulau. Bangka Belitung terletak di bagian timur Pulau Sumatera, erat dengan Provinsi Sumatera Selatan. Bangka Belitung dikenal sebagai tempat penghasil timah, mempunyai pantai yang indah dan kerukunan antar etnis. Ibu kota provinsi ini ialah Pangkalpinang. Pemerintahan provinsi ini disahkan pada tanggal 9 Februari2001. Setelah dilantiknya Pj. Gubernur yakni H. Amur Muchasim, SH (mantan Sekjen Depdagri) yang menandai dimulainya acara roda pemerintahan provinsi.


Bangka  dikenal dengan pantainya , namun Bangka pun mempunyai keragaman budaya. Dari budaya lokal hingga budaya “Import” yang dibawa para pendatang. Keragaman budaya inilah yang belakangan menjadi aset penting untuk membuatkan pariwisata dalam Bangka.Pulau Bangka dikelilingi lautan, laksana surga-surga bagi para nelayan. Karena itu sebagian besar penduduk bekerja sebagai nelayan. Dalam perkembangannya, latar belakang masyarakat Bangka yang sebagian besar nelayan itu, ternyata turut mensugesti pertumbuhan kebudayaan lokal.

Meski ketika ini referensi hidup masyarakat Bangka telah mulai bergeser, kebudayaan lokal yang mengandung unsur nelayan masih tetap kental mewarnai sendi-sendi kehidupan masyarakatnya. Paling tidak ketika ini ada dua event budaya besar yang bekerjasama dengan nelayan, yakni, upacara rebo kasan dan buang jong. Selain itu ada ritual-ritual budaya yang dipengaruhi unsur religi, sementara pertunjukan kesenian Barongsai mewakili kebudayaan masyarakat pendatang (Tionghoa)

Tapi diantara banyak ritual budaya di Bangka, upacara sepintu sedulang boleh jadi mempunyai makna yang khusus. Inilah ritual yang menggambarkan persatuan masyarakat Bangka.

Sepintu Sedulang

Kata sepintu sedulang ialah semboyan dan motto masyarakat Bangka yang bermakna adanya persatuan dan kesatuan serta gotong royong. Ritual ini ialah satu kegiatan penduduk pulau Bangka pada waktu pesta kampung membawa dulang berisi makanan untuk dimakan tamu tau siapa saja di balai adat. Dari ritual ini, tercermin betapa masyarakat Bangka menjujung tinggi rasa persatuan dan kesatuan serta gotong royong, bukan hanya dilaksanakan penduduk setempat melainkan juga dengan para pendatang.

Banyak hal yang menarik untuk di ketahui ihwal kebudayaan yang anda di Bangka Belitung. Banyak even budaya Bangka Belitung yang bisa menarik kunjungan wisatawan absurd atau lokal. Dan even budaya yang terdapat di propinsi ini menjadi kekayaan seni dan budaya masyarakat Bangka Belitung. Budaya yang sudah menjadi bab dari moral masyarakat Bangka Blitung diantaranya ialah Perang Ketupat, Buang Jong, Mandi Belimau, Ruwah, Kongian, Imlek, Sembahyang Rebut, Sembahyang Kubur, Kawin Masal, Nganggung.

Rumah Adat Bangka Belitung

Rumah panggung, rumah limas dan rumah rakit merupakan rumah tradisional Bangka Belitung. Hampir sama dengan propinsi lain yang ada di Pulau Sumatera model arsitektur rumah moral Bangka Belitung berciri arsitektur Melayu. Terdapat tiga macam ciri arsitektur rumah moral yaitu arsitektur Melayu awal, Melayu Bubung Panjang dan Melayu Bubung Limas. Arsitektur rumah Melayu Awal berujud rumah panggung kayu dimana hampir semua materi material yang di pakai untuk rumah ini berupa kayu, bambu, rotan, akar pohon, daun-daun atau alang-alang yang banyak tumbuh dan sangat gampang diperoleh di sekitar pemukiman.

Arsitektur rumah Melayu Awal ini biasanya beratap tinggi dan sebagian atapnya miring. Saat pembangunan rumah yang berkaitan dengan tiang, masyarakat Kepulauan Bangka Belitung mengenal falsafah 9 tiang, dimana bangunan rumah yang didirikan mempunyai 9 buah tiang. Tiang utama tempatnya di tengah dan didirikan pertama kali. Kemuduan atap rumah ditutup dengan daun rumbia. Sementara bab dindingnya biasanya dibuat dari materi pelepah/kulit kayu atau memakai buluh (bambu). 

Pakaian Adat Tradisional Bangka Belitung
Pakaian Adat Pengantin Perempuan terdiri dari baju kurung dengan materi beludru merah yangdilengkapi dengan teretai atau epilog dada serta memakai kain Cual yaitu kain tenun asliBangka yang berasal dari Mentok. Selain itu para Pengantin Perempuan juga menggunakanHiasan Kepala dan dilengkapi dengan asesoris-asesoris. Pakaian Pengantin Pria ini berwarna merah dan biasanya dari materi beludru dengan hiasanManik-Manik dan sama mirip Pengantin Perempuan dilengkapi dengan hiasan Ronce Melatiuntuk keindahan dan keharuman alami (bukan keharusan)

Lagu Daerah
Miak Serumpun, Bujang Lapok, Men Sahang Lah Mirah 

Suku
Suku Melayu Belitung merupakan suku asli, Arab, dan Jawa 

Bahasa
Bahasa yang digunakan ialah bahasa resmi yaitu Bahasa Indonesia dan ada juga yang memakai bahasa Melayu.  

Senjata Tradisonal
Jika Masyarakat Jawa mempunyai senjata tradisional keris, kujang dan sebagainya. Bangka Belitung juga mempunyai senjata tradisional yaitu parang, kedik dan siwar panjang. Senjata tradisional merupakan simbolisasi yang ada disetiap tempat Indonesia (Hanya ada di indonesia yang mempunyai keanekaragaman segalanya) yang mempunyai makna khusus atau pesan khusus atau simbol khusus dan sebagainya. Sebagai negara Indonesia kita patut besar hati dengan keberagaman ini. 

Parang hampir ibarat golok dari betawi namun bukan golok. Parang berbentuk mirip layar kapal, yang digunakan untuk perkelahian jarak dekat. Ujung bendo dibuat berat dan lebar yang mana fungsi nya untuk meningkatkan beban ketika memotong sesuatu, semoga target sanggup terpotong dengan cepat.

 
Kedik digunakan sebagai alat pertanian yang biasa digunakan untuk membersihkan rumput yang tumbuh dibawah tanaman. Fungsinya hampir sama dengan cangkul, namun kedik berukuran lebih kecil dan bentuk nya bengkok ke kiri.Siwar Panjang ialah Senjata tradisional Bangka Belitung

Seni Tari
Campak darat dan Campak laut
Tari Campak merupakan tarian dari tempat Bangka-Belitung yang menggambarkan keceriaan bujang dan dayang di Kepulauan Bangka Belitung. Tarian ini biasanya dibawakan sesudah panen padi atau sepulang dari ume (kebun).
Tari ini digunakan juga sebagai hiburan dalam banyak sekali kegiatan mirip penyambutan tamu atau pada pesta janji nikah di Bangka Belitung. Tarian ini berkembang pada masa pendudukan bangsa Portugis di Bangka Belitung. Hal ini bisa dilihat dari beberapa ragam pada tari Campak antara lain akordion dan pakaian pada penari perempuan yang sangat kental dengan gaya Eropa.

a. Campak Darat
Tari campak merupakan tari khas dari masyarakat pulau Belitung yang merupakan tari hiburan bagi semua lapisan masyarakatnya. Tari ini dibawakan oleh dua atau empat orang penari perempuan diiringi oleh penari laki-laki secara bergantian. Peria yang ingin turun menari harus meberi imbalan berupa uang yang dicampakan disuatu tempat/kaleng yang disediakan didepan penari wanita, dari sinilah lahir nama campak. Biasanya dalam tarian ini diselingi dengan pantun berbalas diantara penari laki-laki dan perempuan sehingga tarian ini akan sangat meriah dan ceria. Sebagai alat pengiring tari campak berupa tawak-tawak, gendang dan biola.

b. Campak Laut

Tari campak bahari oleh masyarakat suku sawang merupakan tarian suka cita yang biasanaya dilaksanakan dalam mengiringi kegiatan upacara ritual muangjong pada setiap tahun. Tarian ini dilaksanakan secara berpasang-pasangan baik renta maupun muda. Tari gembira ini diikuti dengan nyanyian dan diiringi alat music mirip gong dan gendang. Biasanya dilakukan hingga larut malam.

Tari Sepen (Seni Pencak)
Sepen termasuk salah satu tarian tradisional masyarakat Belitung yang mengandung unsur-unsur gerakan pencak silat. Sepen sudah menjadi tarian pergaulan, sering ditarikan untuk menyambut tamu pemerintahan atau wisatawan yang tiba ke Pulau Belitung. Tarian ini bisa dilakukan berpasang-pasangan antara laki-laki dan wanita. Penekanan tarian ini pada kelincahan gerakan kaki dan tepuk tangan sipenari.

kesenian Lesung Panjang
Lesung panjang ialah nama dari alat dan permainan itu sendiri. Biasanya dimainkan pada ketika isu terkini panen padi tiba. Alat utamanya ialah sebuah lesung yang terbuat dari kayu pilihan yang bersuara keras dan jernih. Panjang lesung bervariasi antara 1 – 1,5 meter dengan ia meter 25 cm hingga 30 cm.
Alat untuk memukul lesong dinamakan alu dengan panjang bervariasi dari 75 cm hingga 120 cm dengan ia meter hingga 6 cm lesong dibuat dengan bebagai model dan ukuran sesuai dengan selera pemain.

Tari Tulak Balak

Tarian tulak balak diangkat dari upacara yang sering dilakukan masyarakat untuk menolak mara ancaman guna menjaga keselamatan kampung dari banyak sekali penyakit, mirip penyakit sampar, penyakit menular dan menolak tragedi alam serta menghindari pertikaian antar warga.
Tarian ini dilakukan dari ujung ke ujung kampung, guna mengusir petaka dari kampung digunakan kesalan berupa irisan daun neruse, ati-ati, dan bunga rampai yang telah diberi mantera oleh dukun kampung.

Tradisi Provinsi Bangka Belitung Lainnya :

Maras Taun

Maras taun berasal dari kata maras yang berarti meniris (membersikan duri halus) sedangkan taun berasal dari kata tahun. Maras tahun diadakan setiap setahun sekali oleh masyarakat Belitung didesa dan kecamatan sebagai wujud rasa syukur sesudah melewati isu terkini panen padi. Maras taun merupakan pertanggung tanggapan dukun kampung kepada masyarakat. Ritual utama maras taun adalah: doa awal, tepong taw bwlitung dan doa penutup. Dalam perayaan ini kita bias menyaksikan kesenian tradisonal khas Belitung mirip tari sepen, nutok lesong panjang dan ngemping.

Maras taon moral bari’e Urang Belitong dan hingga ketika ini masih tetap dilakukan di pulau Belitung namun banyak yang tidak mengetahui bagaimana asal maras tahun ini terjadi di Pulau Belitung.Maras Taun atau disebut juga Maras Taon. Bermuasal semenjak kurun waktu yang tak diketahui pasti. Muncul dan berkembangnya prosesi itu seiring dengan referensi pikir masyarakat tradisional Belitong. Mulanya penduduk atau masyarakat Belitong yang menempati bab pesisir atau pedalaman daratan, hidup berelompok menempati wilayah pemukiman yang disebut Kubok dan Parong.

Penghuni Kubok merupakan komunitas kecil berasal dari sebuah keluarga yang kemudian berubah menjadi beberapa keluarga hingga membentuk perkampungan kecil yang disebut Kubok dan Kubok ini dipimpin seorang yang dituakan disebut Kepala Kubok.

Penghuni Parong merupakan komunitas keluarga yang tidak berasal dari satu keluarga tapi dari beberapa keluarga dan jumlahnya lebih ramai hingga membentuk sebuah perkampungan.
Baik Parong atau pun Kubok dipimpin seorang ketua moral yang “dituakan” disebut kepala Parong atau kepala Kubok. “Dituakan” artinya mempunyai kepiawaian, termasuk ilmu perdukunan, jadinya ketua kelompok itu juga otomatis merangkap menjadi dukun yang melindungi warganya.

Kemudian Parong atau Kubok beriring masa bertambah populasinya, ketika sudah menjadi sebuah perkampungan maka dukun tersebut tetap menjadi dukun sekaligus merangkap kepala kampungnya, kini dalam masyarakat Belitong dikenal adanya dukun kampong. Pola ini terus mentradisi hingga zaman ini, bahwa di tiap kampung harus tetap mempunyai seorang dukun kampung disamping adanya lurah atau kepala desa sebagai pimpinan politis adminisratifnya.

Pembukaan Kubok atau Parong bermula dari membuka hutan guna untuk berladang padi tegalan; sebagai sumber makanan utamanya penduduk Belitong. Sebagai rasa syukur atas panen inilah kemudian diadakan perhelatan ritual Maras taun pada setiap tahunnya. Dalam rasa syukur ini dimintakan pada yang Maha Kuasa untuk keselamatan warga dan keberhasilan untuk panen di tahun mendatang. Rasa syukur ini pada awalnya disebut Memaras atau berselamatan tahun yang kemudian disebut saja dengan “Maras Taon atau Maras tahun.

Beripat Beregong
 
Beripat Beregong Sejenis pemainan berkelahi ketangkasan derngan mengunakan rotan sebagai alat pemukul. Masing-masing pemain mengandalkan kemampuan menangkis dan memukul punggung lawan. Yang menjadi pemenangnya ditentukan punggung yang paling sedikit akhir sabetan rotan.
Permainnan ini berakhir tanpa menjadikan dendam diantara sesame pemain. Biasanya sebelum permainan ini dimulai, setiap pemain harus mencari yang disebut nigal yaitu lawin tanding.musik pengiringnya dimeriahkan buyi-bunyian yang terdiri dari music pukul berupa kelinang (gemelan dan gong) serta serunai (alat music tiup) music tersebut dimainkan diatas sebuah bangunan yang tingginya 5 – 6 meter yang disebut balai peregongan.

Menurut kisah yang berkembang secara turun temurun, asal mula beripat - beregong bermula dari sebuah kelaka'--sebutan masyarakat Belitung untuk sebuah kampung kecil yang jauh di tengah hutan dan umumnya terletak tak jauhdari ume (huma, dalam bahasa Indonesia, red.) masyarakat. Keleka' tersebut dikenal dengan nama Keleka'Gelanggang (sekarang Desa Mentigi)

Setelah rotan diberi air jampi, semuanya bersiap-siap. Kedua pemain pun masuk ke gelanggang diiringi tempik sorak penonton. Semua pengigal yang ada di arena pun harus meninggalkan arena. Kedua orang ini saling berhadapan-hadapan, menciptakan gaya yang cukup menarik dalam memukul maupun menagkis. Padahal pertandingan sama sekali belum dimulai. Sekejap kemudian pertandingan pun siap dimulai. Kedua jago bersalaman lebih dulu, sambil mengucapkan kata: “Kite ne cuma main, ndak ade dendam udanya.” Dan, sang lawan pun akan menjawabnya dengan ucapan: “Silekan sidak ngempok dulu'”. Setelah itu pertandingan pun dimulai.

Kedua jago saling serang, memukul dan menangkis. Suara besutan rotan pun seakan memecah kesunyian malam ditingkahi tempik sorak penonton yang mendukung jagonya masing-masing. Setelah pertandingan berjalan cukup lama, juru pisah turun ke gelanggang, menghentikan pertandingan. Kedua jago pun dibawa ke hadapan dukun. Karena, biasanya, para petarung ini ialah juara di keleka'-nya, jarang ada yang terluka parah.

Beripat ini merupakan homogen permainan ketangkasan dengan memakai rotan sebagai alat pemukul. masing-masing pemain mengandalkan keahlian menangkis dan memukul punggung lawan. Untuk memilih pemenangnya dilihat dari masing-masing punggung pemain yang luka paling sedikit akhir sabetan rotan.

Upacara Adat Ritual Buang Jong

Buang Jong berasal dari dua suku kata. Buang artinya membuang; dan Jong artinya ialah Jong (sejenis perahu). Dengan kata lain Buang Jong berarti membuang atau melayarkan bahtera Jong ke laut, dalam ritual tradisi ini ialah miniatur perahu.
Buang Jong – ritual tradisi melepas miniatur bahtera yang disebut Jong dan Ancak yang terbuat dari kerangka bambu yang dibuat mirip rumah yang berisi banyak sekali macam sesaji – merupakan budaya tradisional, bebuyutan dilakukan setiap tahun oleh Suku Sawang di Belitung pada setiap dimulainya angin barat musim, biasanya pada bulan Agustus atau November, di mana angin dan gelombang sangat besar. Di Belitung, ini disebut Musim Barat. Melalui upacara ritual Buang Jong dengan tujuan meminta sumbangan dan keselamatan, sehingga mereka akan terhindar dari tragedi ketika mereka berlayar ke bahari lepas untuk menangkap ikan sebagai mata pencaharian mereka.

Prosesi ini akan berlangsung 3 hari dan malam, sesuai dengan kondisi kebiasaan upacara yang harus dipenuhi. Semua proses upacara dipimpin oleh seorang dukun atau pemimpin moral masyarakat Suku Sawang. Tradisi Buang Jong sendiri berakhir dengan sebuah miniatur kapal dilayarkan dengan banyak sekali macam sesaji ke laut.

Jong dan Ancak untuk mempromosikan tradisi ini menjadi salah satu kegiatan pariwisata, ketika ini, sanggup disaksikan pada setiap November, dengan nama Festival Buang Jong untuk di Kabupaten Belitung. Sedangkan di Kabupaten Belitung Timur, Buang Jong sendiri sering dilakukan pada bulan Februari di Pantai Mudong.

Nirok Nanggok
Merupakan program penangkapan ikan secara masal yang masih dilaksanakan oleh masyarakat desa Belantu, Kemiri dibagian Selatan Pulau Belitung. Acara ini hanya diadakan pada isu terkini kemarau panjang antara bulanAgustus s/d September.Pada isu terkini kemarau banyak sungai-sungai menjadi surut dan didalamnya terdapat banyak ikan. Alat yang digunakan berupa "Tirok dan Tanggok". Tirok:semacam tongkat kayu yang dibagian pangkalnya dipasang mata tombak, Tanggok: semacam raga yang terbuat dari rotan yang dijalin. Acara ini termasuk sakral, alasannya ialah itu dalam pelaksanaannya harus melalui tahap-tahap yang cukup panjang dan aturan-aturan tertentu yang dihentikan dilanggar.

Semua prosesi program ini dipimpin oleh seorang dukun air dan dihadiri oleh pemuka kampong dan seluruh penduduk setempat. Fungsi program ini ialah mengompakkan/menyatukan dan mempertebal kepatuhan penduduk akan moral yang mereka miliki. Disamping itu juga untuk mengatur penangkapan ikan di sungai-sungai yang telah ditentukan guna melestarikan ikan yang ada di sungai tersebut.

Nirok Nanggaok ialah budaya orang Belitung di tempat pedesaan yang dilaksanakan pada isu terkini kemarau panjang , pada ketika sungai- sungai dan rawa menjadi kering . Nirok Nanggok ialah kegiatan mencari ikan dengan memakai Tirok ( homogen tombak bermata besi runcing) dan Tanggok ( homogen jala kecil dengan gagang dari kayu).

Kegiatan ini biasanya dilakukan beramai - ramai oleh satu kampung dipimpin oleh seorang dukun kampong yang memimpin jalannya acara.“Nirok Nanggok is a traditional culture of Belitung people especially in the rural district. This ceremony held in dry season when rivers and swamps dried . Nirok Nanggok is a festifal tocatch fish in dried rivers and swamps using Tirok ( a sharp thin harpoon ) and Tanggok ( fish catcher tool ).

Nirok Nanggok held by all people in a village and ruled by a dukun kampong.” “Dua tradisi isu terkini kering, mentandik dan nirok nanggok digemari masyarakat Belitong” kata Sjahchroelsiman, Ketua Lembaga Adat Belitung kepada Wakil Bupati Belitung, Sahani Saleh. Mandi besimbor meruupakan puncak program dari seluruh rangkaian perkawinan moral belitung, yaitu kedua mempelai akan dimandikan dengan air kembang oelh kedua keluarga yang akan diikuti oleh para tamu usul dengan saling bersiraman air dan kemudian dilanjutkan dengan upacara injak telor serta berebut masuk kamar temanten.
Loading...
SHARE
Subscribe to get free updates

Artikel Terkait