Seni Sastra Aceh, Kitab Bustanussalatin

Iklan 728x90

Seni Sastra Aceh, Kitab Bustanussalatin

Bustanussalatin merupakan salah satu kitab gubahan Syeikh Nuruddin Ar-Raniry. Nuruddin Ar-Raniry merupakan seorang muslim yang berasal dari Hadhrami, India, yang nama lengkapnya yaitu Nuruddin Muhammad bin Ali bin Hasanji bin Muhammad Hamid ar-Raniri al-Quraisyi Asy-Syafii. Naskah tersebut ditulis atas usul Sultan Iskandar Tsani (1636-1641 M). Beliau tiba dari Ranir (sekarang Rander) di Gujarat dan tiba di Aceh pada 6 Muharram 1047 H (31 Mei 1637). Penulisannya dimulai pada tanggal 4 Maret 1638 dengan nama lengkap Bustanussalatin fi zikril awwalin wal akhirin.


Dalam kitab Bustanussalatina juga digambarkan patriotisme dan peperangan masa kerajaaan, sanggup dikatakan naskah ini merupakan kitab perdana di dunia Melayu (Nusantara) yang berbentuk gubahan ensiklopedis yang menggabungkan genre universal historis dengan cermin didaktis. Kitab ini sangat tebal sehingga tidak tersimpan semua pecahan dalam satu bundel, dan biasanya naskah-naskahnya berisi hanya satu atau dua-tiga pecahan tertentu. Namun, kalau mengupas isinya maka sanggup ditemukan antar pecahan dan pasal saling bersinambungan dan berkaitan, sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa kitab ini dikarang secara periodik dan kontinu.

Menilik isinya, kitab ini berisikan pengetahuan agama, sejarah dan nasehat yang terinci dalam tujuh pasal, yaitu:

  • Pasal 1

Pasal ini berisi sejarah terjadinya dunia, nur Muhammad, asal bencana malaikat, iblis atau jin, Sidratul Muntaha, tujuh lapis langit, al qalam, al arasy, bumi, dan asal bencana langit berdasarkan kepercayaan orang islam.

  • Pasal 2

Pasal ini berisi riwayat nabi-nabi. Mulai dari Nabi Adam hingga kepada Nabi Muhammad, dari zaman Raja-raja Persia hingga kepada zaman Umar bin Khatab, dari zaman kaisar Bizantium hingga kepada Nabi Muhammad, dari zaman Raja-raja Mesir hingga kepada zaman Iskandar Zulkarnain, dari Raja-raja Arab sebelum Islam hingga kepada zaman Nadjed dan Hidjaz hingga pula kepada zaman Muhammad. Pemerintahan zaman Nabi hingga kepada pemerintahan Khalifah ar Rasjidin yang empat orang jumlahnya, sejarah bangsa Arab dibawah pemerintahan Bani Ummaiyah dan Abbasiyah, hingga kepada riwayat pangeran-pangeran Islam di Delhi dan sejarah raja-raja Malaka serta Pahang dan hingga pula kepada riwayat raja-raja Aceh.

  • Pasal 3

Pasal ketiga berisi dongeng wacana raja yang adil, pembesar yang berilmu dan bijaksana, dan juga pegawai yang baik dan jujur.

  • Pasal 4

Pasal ini berisi wacana raja-raja yang shaleh, orang-orang beriman, orang-orang yang takwa kepada Allah, dan orang-orang keramat (suci). Selain itu juga menceritakan Sultan Iskandar Zulkarnain.

  • Pasal 5

Pasal ini menceritakan raja-raja yang lalim, pembesar yang bebal, pembesar yang tidak setia kepada rajanya, dan pegawai yang jahat.

  • Pasal 6

Pasal ini berisi wacana orang-orang yang bersifat mulia dan wacana pahlawan-pahlawan pada perang Uhud dan Badar, serta perang yang lain yang disertai Nabi Muhammad SAW.

  • Pasal 7

Pasal ketujuh ini yang juga merupakan pasal terakhir mengambarkan wacana kelebihan logika dan kemuliaan segala macam ilmu pengetahuan termasuk ilmu filsafat dan ilmu obat-obatan.

Selaras dengan perkembangan dunia pernaskahan, pada pertengahan era ke-19 tepatnya pada awal aksi Belanda ke Aceh pada tahun 1873 M, perang paling terpanjang dalam catatan sejarah dan penyerangan besar-besaran ke Aceh, telah menyebabkan perhatian ilmuwan dan rakyat Aceh terhadap karya-karya ulama spektakuler terabaikan, pada ketika yang sama perhatian rakyat Aceh tertuju kepada usaha fisik (perang) mengusir penjajah dari tanah kelahirannya. Situasi ini dimanfaatkan oleh penjajah untuk memboyong karya-karya ulama ke luar negeri, walau sebagian kecil tugas ulama menyelamatkan naskah dengan mengkaji dan memperbanyak di dayah-dayah sekaligus menjadi benteng usaha ibarat apa yang terjadi di Zawiyah Tanoh Abee, Awe Geutah dan di dayah-dayah lainnya.

Kini manuskrip karya ulama-ulama Aceh sangat jarang ditemukan, pada kajian inventarisir naskah Bustan as-Salatin yang menjadi cikal bakal pengungkapan sejarah keemasan dan kejayaan kerajaan Aceh sudah tidak ditemukan lagi sumber asli, kitab fenomenal tersebut menjadi misteri di negerinya sendiri.
Loading...
ARTIKEL PILIHAN

Artikel Terkait